News Sticker

  PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PUTARAN KE-2 (19 APRIL 2017)   SALAH SATU PASANGAN CALON YANG MASUK KE PUTARAN KE-2 ADALAH PASANGAN ANIES & SANDI    PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017) ;   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

Perpaduan Budaya Pra-Islam dan Islam dalam Pawai Obor Sambut Ramadan

Fadjriah Nurdiarsih Mei 2017 BETAWI

Banyak daerah di Indonesia yang punya tradisi unik menyambut bulan Ramadan. Sebagian akan nyadran atau menggelar doa syukur, berziarah ke makam (nyekar) atau melakukan tradisi membersihkan diri seperti berendam di dalam sungai. Apabila warga Depok punya tradisi ngubek setu, maka warga Kebagusan memiliki tradisi pawai obor.

Pawai obor itu dilakukan oleh Remaja Islam Masjid Baitul Rahim bersama warga RW 01 Kelurahan Kebagusan. Dalam pawai yang dilaksanakan pada Sabtu, 20 Mei 2017 itu, sepasang ondel-ondel, laki-laki dan perempuan, berjoget-joget mengiringi alunan musik marawis yang dimainkan oleh para remaja. Tangan ondel-ondel itu bergoyang-goyang dan sesekali tubuhnya berputar mengikuti irama musik. Di belakangnya, mobil colt terbuka membawa rombongan penabuh marawis, alat musik tepuk yang terbuat dari kulit. Salah seorang di antara penumpang colt itu menyanyi dengan pengeras suara.

Di belakang mobil yang berjalan pelan itu, ratusan orang-anak-anak, remaja, hingga dewasa mengiringi berjalan sambil membawa colen (obor khas Betawi). Beberapa memilih naik sepeda motor. Jalur yang ditempuh lumayan juga, sekitar 5 kilometer dan melalui jalan raya TB Simatupang. Namun hal itu tidak membuat rasa antusias warga untuk mengikuti perhelatan yang digelar setelah salat Isya itu surut. Tercatat ratusan orang mengikuti acara pawai yang sudah menjadi tradisi saban Ramadan tiba itu.


Diskusi

Warga di sekitar jalur yang dilintasi peserta pawai pun riuh melihat keramaian ini. Bahkan, anggota rombongan pawai yang berjalan tertib ini menjadi perhatian warga sekitar yang melintas. Sebagian warga yang larut dalam antusisme tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto bersama ondel-ondel laki-laki dan perempuan.

Fuad Achmad, salah seorang warga, mengatakan sudah jarang masyarakat yang melestarikan budaya pawai obor. “Masyarakat di kampung ini termasuk masih bagus, mau melestarikan tradisi,” tuturnya.

Adapun H. Asmari, Ketua Masjid Baitulrahim, mengatakan inisiatif pawai obor ini datang dari kalangan remaja. Mereka ingin menyalurkan energinya untuk kegiatan yang positif. “Acara ini pun rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadan,” tuturnya.


Diskusi

Tsssing, suara petasan yang melontar tinggi membuat para peserta bersorak. Berkali-kali panitia repot mengingatkan agar tidak ada peserta yang tercerai-berai dari barisan. Ondel-ondel menjaga barisan pawai dengan membuka jalan.

Dalam tradisi Betawi, ondel-ondel adalah boneka besar yang terbuat dari bilah-bilah bambu yang diberi pakaian dan perhiasan seperti pengantin. Muka ondel-ondel laki-laki dicat merah, sementara ondel-ondel perempuan dicat putih. Ondel-ondel atau barongan cukup tinggi, sekitar 2,5 meter dan berfungsi sebagai pengusir roh jahat.

Masuknya ondel-ondel dalam kebudayaan Betawi merupakan pengaruh dari kebudayaan pra-Islam, yakni animisme. Bahkan, ondel-ondel pada mulanya dianggap sebagai perwujudan setan. Maka, malam itu, menarik sekali menyaksikan ondel-ondel yang berasal dari zaman pra-Islam dan dianggap sebagai pelindung kampung, tampil berkawin dengan musik marawis yang merupakan hasil kesenian pengaruh Islam atau Arab. Namun, sebenarnya hal itu tidak mengherankan mengingat cara berislam orang Betawi.

Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi, menuturkan, “Islamnya orang Betawi memberi tempat kepada hal-hal yang bersifat kepercayaan gaib.” Karena itulah, kata pria yang juga aktif bersahibul hikayat ini, di Betawi ada ancak—seserahan untuk makhluk halus.


Diskusi

Saya sendiri merasa, barangkali di tempat lain di Indonesia masih banyak juga kita temui perpaduan antara budaya Islam dan budaya pra-Islam. Buktinya adalah ondel-ondel yang dipercaya sebagai setan pengusir roh jahat menari diiringi tetabuhan rebana yang lahir dari negeri tempat Islam berasal. Suara tetabuhan diiringi nyanyian terus bergema, “Syirillah ya Ramadhan, Syirillah ya Ramadhan. Syirillah ya Ramadhan, bil qolbul wal ghufron....”

Setelah acara pawai usai, panitia beserta rombongan silat Banteng Malang yang dipimpin Sahroni menikmati lezatnya nasi kebuli (makanan khas orang Arab-Betawi). Maka, benar jika dikatakan Betawi itu adalah adonan dari beragam budaya yang menjadikan Indonesia.

Related Post

$(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
close
Banner iklan disini