News Sticker

  PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PUTARAN KE-2 (19 APRIL 2017)   SALAH SATU PASANGAN CALON YANG MASUK KE PUTARAN KE-2 ADALAH PASANGAN ANIES & SANDI    PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017) ;   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

Orang Betawi, Perempuan dan Peranannya

Izhar Syafawy Mei 2017 Perempuan Betawi

aktifitas diskusi

Orang Betawi atau masyarakat Betawi adalah sekelompok masyarakat yang secara sosial budaya merupakan hasil proses asimilasi antara penduduk pribumi dengan penduduk pendatang, yakni Cina, Portugis, India, dan Arab. Dalam konteks sejarah, khususnya terkait perempuan, ada sebuah simbol 3ur, yang didefiniskan sebagai sumur, dapur, dan kasur.

Simbol ini menjadi sebuah kekangan bagi perempuan Betawi terdahulu untuk dapat berkiprah dan berperan lebih luas di dalam dunia. Karena banyak laki-laki Betawi yang tidak suka apabila istrinya terlalu aktif di luar rumah. Karena itu, beberapa perempuan non-Betawi memilih tidak mau menikah dengan laki-laki Betawi karena dikhawatirkan akan terjadi seperti itu.

Mengutip pernyataan Mpok Halimatussa’diah dalam diskusi Betawi kita ke-18 di Setu Babakan pada 23 April 2017, Beliau mengatakan tingkat pendidikan wanita Betawi generasi hari ini jauh lebih baik dibanding tingkat pendidikan wanita Betawi yang terdahulu. Sebab, cara pikir mulai terbuka dan ditambah dengan adanya undang-undang yang memungkinkan, sehingga perempuan bisa berdiri sejajar dengan laki-laki.

Akan tetapi sehebat-hebatnya perempuan Betawi dalam berbagai bidang disiplin ilmu tidak akan lupa kepada kodratnya sebagai perempuan Betawi yang mengutamakan pendidikan seorang anak yang terlebih dahulu. Karena seorang kehidupan seorang anak di masa depan akan ditentukan dengan pendidikan yang diberikan oleh ibunya.

Mpok Fadjriah Nurdiarsih atau yang sering disapa Mpok Iyah mengatakan dalam kesempatan diskusi Betawi Kita ke-18, kebanyakan bagi perempuan yang telah menikah izin suami sangatlah diperlukan untuk keluar rumah, sementara banyak laki-laki Betawi tak begitu suka membiarkan istrinya aktif di luar rumah.

Akan tetapi, laki-laki Betawi memberikan izin sang istri keluar rumah hanya untuk pergi ke majlis taklim dan selebihnya banyak mengurusi urusan rumah tangga. Maka dari itu kekuatan agama yang dimiliki wanita Betawi sangatlah kuat dan banyak dari kalangan mereka yang menjadi seorang ustazah dan menyekolahkan anaknya di pesantren dan madrasah dibanding sekolah biasa.

Ada yang menarik dalam pernyataan Mpok Iyah. Ia menyebutkan, dalam kultur yang terdapat dalam pada letak geografis Betawi Tengah, para perempuan Betawi umumnya lebih terpapar dengan suku bangsa yang heterogen, sehingga menumbuhkan daya saing yang lebih terhadap orang lain. Maka dari itu, banyak dari kalangan mereka yang sekolah di negeri dan menjadi politikus atau bahkan menteri.

Berbeda dengan masyarakat Betawi yang ada di Betawi Pinggir yang kebanyakan dari kalangan mereka hanya menguatkan kekuatan disiplin ilmu agama dan taat kepada ajaran agama. Karena itu, banyak sekali dari kalangan Betawi Pinggir yang menjadi guru ngaji, kiyai, serta berkecimpung di sekolah-sekolah agama, dan lain sebagainya. Sementara Betawi Ora tak terlalu mementingkan ilmu agama, sehingga banyak di antara mereka yang bergerak di bidang kesenian.


Diskusi

Bagaimana Seharusnya Peran Perempuan Betawi

Perempuan Betawi seharusnya sudah mulai membuka pola pikir atau mindset mereka dengan tidak meninggalkan budaya atau ajaran terdahulu untuk diaplikasikan dengan dinamika kemajuan kehidupan sekarang yang tidak boleh kita tontonin saja. Karena itu, perlu adanya sebuah pergerakan dan perhimpunan wanita Betawi yang kuat.

Banyak nilai-nilai yang sebenarnya telah terinternalisasi dalam diri wanita Betawi untuk dapat survive dan struggle dalam beradaptasi zaman. Namun sayangnya hal ini jarang sekali disadari oleh perempuan Betawi. Masih banyak perempuan Betawi dan sangat terlena atau tenggelam dalam stigma-stigma 3ur, yaitu sumur, dapur, dan kasur.

Jika saja perempuan Betawi menerjemahkan makna dari 3ur dalam kemajuan kehidupan saat ini, maka nilai–nilai tersebut sangatlah baik untuk menjadi falsafah kehidupan yang hebat yang dimiliki oleh perempuan Betawi untuk memberantas dan menghancurkan pandangan orang non-Betawi terhadap masyarakat Betawi, khususnya kaum perempuannya.

Dalam makalah yang disampaikan Mpok Halimatussa’diah mengutip pernyataan Bang Yahya Andi Saputra, disebutkan konteks perempuan kaitannya dengan makna 3ur yang memiliki makna sangat dalam, di mana perempuan Betawi harus sudah mulai berubah melalui cara sikap dan pemikirannya.

Sumur, memiliki makna adanya pekerjaan-pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh perempuan Betawi. Dapur, memiliki makna adanya pekerjaan yang harus dapat dilakukan atau dikuasai oleh para perempuan Betawi. Sementara Kasur memiliki makna bahwa perempuan Betawi dapat menjaga dirinya dan keluarganya.

Menurut Mpok Iyah, kesetaraan gender dengan laki-laki harus selalu diperjuangkan Karena perjuangan kartini belumlah, selesai maka dari itu kita harus meneruskannya. Beliau juga mengutip pernyataan Ibu Susi Pudjiastuti, seorang Menteri Kelautan Kabinet Indonesia Kerja bahwa “Jangan pikirkan kalian perempuan lakukan apa saja yang kalian bisa”

Seperti halnya Mpok Halimah Munawir yang juga sebagai narasumber pada diskusi Betawi Kita ke-18, Beliau seorang pendiri pusat pelatihan kampung budaya ramah anak di Mega Mendung, Puncak, Bogor. Beliau berkata perempuan Betawi sebetulnya sangat hebat-hebat. Ada yang menjadi seniman, penulis, dll.

Akan tetapi, Beliau menegaskan juga kepada perempuan Betawi yang masih di dalam rumah saja dan belum sempet berkiprah, maka mulailah dan jangan hanya menunggu. Mulailah dengan membuat handycraft yang bias dikerjakan di rumah dan yang nanti dikemas dengan yang elegan agar dapat mampu bersaing dan laku di pasaran.

Beliau menceritakan perjalanannya keliling Asia, bahwa kualitas produk Indonesia sangat jauh lebih baik dan berkualitas dari pada produk-produk negara lain. Akan tetapi, mereka lebih unggul dalam cara penyajiannya dan pengemasannya, meskipun kualitasnya standar-standar saja. Selain itu, kita pun kurang dari cara pengemasan dan penyajiannya.

Seperti contoh yang dilakukan oleh Bung Karno sang proklamator bangsa kita. Beliau ketika ingin membuat Monas melihat dari sebuah tiang tinggi yang berdiri tegak. Munculah sebuah ide yang diterapkan oleh Beliau untuk membuat sebuah seperti tiang yang tinggi dan tegak yang dilapisi dengan keramik marmer dan di atasnya terdapat sebuah emas murni 24 karat.

Lalu, apa tantangan yang dihadapi saat ini?

Era modern dengan segala fasilitas dan kemudahan membuat semua orang terpesona dengan adanya itu. Namun, kita tidak boleh meninggalkan itu, maka dari itu kita harus merangkul dengan tidak dikomandai oleh kemajuan saat ini.

Persaingan yang sangat kuat membutuhkan mental dan jiwa pesaing yang lebih kuat. Masuknya abad ke 21 ini menjadikan sebuah pertarungan ideologi, gagasan dan kemampuan bicara dalam memperngaruhi seseorang untuk dapat mengerti apa yang ia keluarkan tidak hanya bermodalkan urat dan teriakan saja.

Nilai-nilai independensi setiap budaya dan sejarah di bangsa ini secara tidak kita sadari dengan cara yang pelan-pelan mulai terkikis dan punah, di saat pelaku sejarahnya masih bisa menikmati kehidupan di akhir kehidupannya. Maka dari itu, janganlah kita sebagai penerus bangsa ini punah di bangsa kita sendiri dengan ketidakmampuan yang kita miliki.

Indonesia memberikan hak terbuka kepada masyarakatnya untuk dapat menyampaikan aspirasi, ide dan gagasannya. Maka dari itu patut kita manfaatkan dan kita syukuri. Memahami makna mensyukuri dalam konteks ketatanegaraan yang disampaikan oleh Ketua MPR RI Dr. (HC) Zulkifli Hasan, SE., MM dalam pidatonya di UIN Jakarta.

Beliau mengatakan makna mensyukuri ialah dengan melaksanakan seluruh tugas dan kemampuan yang kita lakukan dengan secara maksimal jangan merasa puas, Karena merasa puas hanyalah menjadikan kita kepada kesombongan dan kepuasan sementara. Jangan khawatir pertolongan Allah akan ada untuk kita semua jika kita mau melakukannya.

Mpok Halimah Munawir menegaskan bagi perempuan Betawi jangan takut dengan zaman saat ini, asalkan kita mau keluar dari zona nyaman yang kita alami saat ini. Semuanya bisa dikemas dengan mengikuti tren zaman ini dan diisi dengan produk yang berkualitas dan jangan asal-asalan yang menjadi penyakit saat ini.

Related Post

$(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
close
Banner iklan disini