News Sticker

  PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PUTARAN KE-2 (19 APRIL 2017)   SALAH SATU PASANGAN CALON YANG MASUK KE PUTARAN KE-2 ADALAH PASANGAN ANIES & SANDI    PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017) ;   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

ORANG BETAWI & SITUS SEJARAH BUDAYA

Ijal Syafawy April 2017 BETAWI


Di Jakarta terdapat beberapa perkampungan masyarakat Betawi, tapi ekspansi perluasan kampung masyarakat Betawi mengalami berbagai macam cerita yang tidak lepas dari sebuah kejadian-kejadian yang terjadi di daerah setempat.

Menurut narasumber Pak Candrian Attahiyat dalam diskusi Betawi Kita ke-17 bertema “Orang Betawi dan Cagar Budaya”, yang dimaksud kampung masyarakat Betawi adalah perkampungan yang di luar tembok Kota Batavia dan di sekitar daerah rumahnya tidak memakai pagar tembok dan pagarnya terbuat hanya dari akar-akar pepohonan saja.

Seperti yang dilukiskan oleh seorang pelukis bernama Jan Brandes (1778-1787), lokasi Batavia berada persis di bawah kaki Gunung Pangrango dan pesisir pantai. Luasnya lokasi Batavia yang dibangun oleh penjajah Belanda menunjukkan sebuah kekuasaan para kaum penjajah saat itu hingga batas perluasan Kota Batavia, yakni sebuah benteng-benteng besar yang menandai batas-batas Kota Batavia sebelum tahun 1808.

Pada 1808 dilakukanlah pembongkaran benteng-benteng Kota Batavia. Sesudah itu, Kota Batavia dipindahkan ke sekitar Weltevreden (sekitaran Monas dan Lapangan Banteng). Dengan demikian, maka perkampungan masyarakat asli pribumi setempat, yaitu kaum Betawi, mulai berkembang bertahap dan semakin luas.

Kampung-kampung yang terus dikembangkan dan dirawat oleh masyarakat asli pribumi setempat, yaitu masyarakat Betawi, sudah mulai terasa bentuk kerukunan mereka dalam menjalankan roda perputaran berumah tangga. Tahun 1826 mulailah muncul lima perkampungan di Batavia saat itu, yakni Kampong Tanke, Kampong Moeka, Kampong Jacatra, Kampong, Kampong Prapatan.

Perkampungan masyarakat Betawi hanya berbataskan batang-batang pohon yang ada tanpa mengukur seberapa luas wilayahnya dengan menggunakan metode alat ukur yang popular saat ini. Akan tetapi mendekati abad ke-20 atau sekitar tahun 1897 mulai banyak masyarakat Betawi yang menunjukkan sumber daya manusia mereka hingga dapat mandiri dan memperoleh sebuah keunggulan yang ada di setiap perkampungan.

Diskusi

Tahun 1897 perkampungan masyarakat Betawi mulai lagi melebarkan sayapnya dengan memperkuat basis-basis setiap daerah. Kemudian mulailah muncul kampong masyarakat Betawi hingga timbul 70 kampong. Tahun ini merupakan sebuah bentuk kerukunan bersama yang terus berkembang dan merupakan masa keemasan dalam perluasan kampung Betawi.

Kampung-kampung tersebut di antaranya: Bandan, Angke, Bebek, Boekit Doeri, Djapat, Djatinegara, Djembatan 3, Djembatan 2, Djepang, Doekoe, Djoeraganan, Kajoe Putih, Kampong Ambon, Kampong Lima, Kampong Melajoe, Kalimati, Karet, Kedoeng Pandjang, Kebon Djeroek, Kebon Manggis, Keloempang, kelapa Gading, Kemandoran, Kemajoran, Kerendeng, Kodja, Kramat, Kwitang, Manggarai, Mangga Doewa, Matraman, Menteng, Moeka, Palmerah, dll.

Menurut Pak Candrian Attahiyat mulai tahun 1980-an perkampungan masyarakat betawi mulai tidak terasa lagi ciri khasnya, hanya tinggal sisa pantun dan cerita. Karena itu, mulainya para pengembang dan investor menanamkan modal mereka untuk membangun sebuah perkotaan di wilayah Jakarta.

Berbagai tradisi kebudayaan Betawi yang kental dengan tradisi agama Islam, maka narasumber Abang Yahya Andi Saputra menegaskan bahwa orang Betawi itu sudah harus meninggalkan yang namanya budaya nenek moyang yang menyembah-menyembah dengan tidak jelas seperti di puhunan, di lautan, dan lain lain, akan tetapi harus menyembah Allah SWT, karenanya perbuatan itu musrik.

Abang Yahya Andi Saputra menjelaskan bahwa sebelumnya di Betawi banyak sekali tempat bersejarah yang tidak bisa kita lupakan. Salah satunya tokoh-tokoh Islam yang mengembangkan dan memperkenalkan Islam dengan memasuki dengan cara adat budaya Betawi. Oleh karena itu, kita sebagai penerus dan kaum pemuda harus mengenal itu semua seperti apa yang Bung Karno bilang “Jas Merah”.

Jawara Kampung Pesanggarahan Lebak Bulus Abang Idin memberikan sebuah pendapatnya bahwa seorang yang pintar dan paham sangat berbeda. Akan tetapi, kita tidak boleh pintar saja akan tetapi paham. Beliau sangat paham sekali gimana sejarahnya kaum Betawi di kampung halamannya dengan melalui ilmu yang beliau dapatkan hasil pemahaman yang beliau lihat, pahami, rasakan dan dengar.

Related Post

$(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
close
Banner iklan disini