News Sticker

  PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PUTARAN KE-2 (19 APRIL 2017)   SALAH SATU PASANGAN CALON YANG MASUK KE PUTARAN KE-2 ADALAH PASANGAN ANIES & SANDI    PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017) ;   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

Komunitas Betawi Kita dan Upaya Menebangkan Tradisi Intelektual Kaum Betawi

Roni Adi Januari 2017 Tokoh

Kongko tuker pikiran Betawi Kita yang pertama ngebahas sual “Siapakah Orang Betawi?”


Berawal dari kegelisahan

Dalam suatu acara diskusi sejarah dan perkembangan maen pukulan Betawi di Bentara Budaya Jakarta beberapa tahun yang lalu, mengemuka sebuah obrolan hangat. Saat itu saya bersama Bang Gusman Natawijaya, seorang kawan pegiat sekaligus peneliti maen pukulan Betawi, terlibat pembicaraan santai dengan JJ Rizal, sejarawan kelahiran Tanjung Duren, Jakarta Barat. Pokokdiskusi kami adalah mengenai perkembangan gerakan budaya dan intelektual di tanah Betawi.

Kami utamanya sangat bergembira karena beberapa tahun terakhir kegiatan-kegiatan budaya “maen pukulan” selalu ramai diadakan dan selalu banyak peminatnya. Namun di saat yang sama, kami melihat bahwa kegiatan “maen pikiran” tidak seramai “maen pukulan”. Kalaupun ada, tidak banyak peminatnya.

Lalu timbullah beberapa pertanyaan menggelitik, “Apakah orang Betawi punya tradisi intelektual?”. Selain itu, “Bagaimanakah kinerja lembaga “Pusat Kajian Kebudayaan Betawi” yang didirikan oleh beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta dan organisasi kumpulan para penggede Betawi dalam mendorong dan memajukan gerakan intelektual di tanah Betawi?”

Dari pertanyaan kecil ini, akhirnya kami dan beberapa kawan pegiat maen pukulan Betawi sepakat mendirikan suatu wadah komunitas tuker pikiran yang bersifat terbuka dan dimaksudkan untuk mendorong gerakan “maen pikiran” di kalangan kaum Betawi. Komunitas ini diharapkan akan menjadi ajang tukar pikiran yang membahas persoalan apapun mengenai kaum Betawi, baik soal Betawi di tengah Jakarta, Betawi di tengah Indonesia, bahkan Betawi di tengah dunia. Bentuknya adalah kongko atau diskusi rutin setiap bulan.

Awalnya,saya dan JJ Rizal menamakan komunitas ini sebagai “Betawi Kite”. Namun berdasarkan masukan Bang Gusman, namanya diubah menjadi “Betawi Kita” dengan alasan nama “Betawi Kite” lebih berat ke sub-dialek “Betawi Tengah”, sedangkan “Betawi Kita” dianggap lebih netral dan bisa diterima oleh para penutur sub-dialek lain di luar “Betawi Tengah”.

Saat ini sebagai penggawa dari komunitas “Betawi Kita” adalah saya, Roni Adi; JJ Rizal, Sejarawan; Bang Lantur, pegiat maen pukulan Condet; Bang Rachmad Sadeli, pendiri Majalah Betawi dan Pustaka Betawi; Mpok Fadjriah Nurdiarsih, editor di salah satu portal berita online terbesar di Tanah Air; Bang Syamsudin Bahar, pegiat teater dan lenong Betawi; Cang Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi senior sekaligus Wakil Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB); Bang Sudirman Asun, aktivis Jaringan Advokasi Tambang (Jatam);

Bang Nugraha Andri,aktivis lingkungan sekaligus pemilik usaha desain interior di Jakarta; Bang Denny Setiawan, mahasiswa yang sekarang menjadi dosen mata kuliah jurusan multimedia di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung; Bang Asep Setiawan, pegiat budaya dan penulis tentang kebetawian; Bang Amrullah – Kojek Rap Betawi, seniman; Bang Yuzar Mikail, pegiat Rumah Langit, pengelola bimbel gratis bagi anak tidak mampu di bilangan Kampung Tengah, Condet; serta beberapa anak muda aktivis mahasiswa Betawi.

Foto selepas diskusi sual “Orang Betawi dan Condet”


Seri diskusi pertama kongko tuker pikiran “Betawi Kita” diadakan pada Minggu, 11 Oktober 2015 di kediaman JJ Rizal sekaligus kantor Komunitas Bambu di Beji Timur Depok. Diskusi pertama mengangkat tema mengenai “Siapakah Orang Betawi”.

Alhamdulillah saat ini seri diskusi Betawi Kita sudah berjalan 15 kali dan lokasi diskusi juga tidak hanya di Komunitas Bambu Depok, tetapi juga ke perkampungan-perkampungan lainnya, antara lain di Tanah Abang, Condet, Cilandak, permukiman pinggir Kali Ciliwung di Jalan Tongkol, Priok, bahkan sampai ke Pontang–Serang Utara, Banten.

Membangun budaya baca dan budaya menulis

Pustaka Betawi yang didirikan oleh Bang Rachmad Sadeli


Berdasarkan hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar. Padahal, kemampuan literasi alias piawai membaca dan menulis merupakan kunci sukses menghadapi berbagai tantangan pada abad 21.

Statistik UNESCO pada2012 pun menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja, sementara Malaysia sudah 86,4 persen.

Seharusnya generasi sekarang bisa belajar pada generasi terdahulu mengenai tingginya budaya literasi di kalangan para pendiri bangsa. Kartini dan generasi setelahnya—Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, Tan Malaka, Husni Thamrin, Sukarno, Hatta—mampu membuat gerakan kebangkitan di masa lalu Indonesia dengan berhasil memancangkan “pikiran” dan “keberaksaraan” sebagai tanda. Lantas, tanda apakah gerangan yang diciptakan elite masa kini agar dapat dijadikan contoh bagi kalangan rakyat kebanyakan?

Sayangnya saat ini, daya pikir dan daya literasi para elite pun telah ditaklukkan oleh pragmatisme dan banalisme. JJ Rizal, mengutip sosiolog Frank Furedi, menyebutnya sebagai ‘the cult of philistinism’, pemujaan terhadap budaya kedangkalan oleh perhatian yang berlebihan terhadap daya tarik material dan praktis. Hal itu pula yang menurut Yudi Latif menyebabkan nasib Indonesia yang tak habis dirundung malang karena lebih memuja kemewahan. Akan tetapi, di sisi lain tidak menganggap daya tulis, daya baca, daya pikir, dan daya pengetahuan sebagai penentu kehormatan seseorang.

Betawi Kita sebagai salah satu wadah kongko tuker pikiran kaum Betawi inisedikit banyak ingin berkontribusi dalam mengukuhkan kembali budaya pikiran juga keberaksaraan yang jadi sumber kekuatan logos atau pengetahuan suatu bangsa. Oleh karena itu mulai Januari 2017 ini, setiap anggota komunitas “Betawi Kita” diwajibkan untuk menyumbangkan minimal satu tulisan setiap bulannya untuk dimasukkan ke dalam website www.betawikita.id yang dikelola oleh Bang Nugraha Andri. Setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi Betawi Kita akan di-review dan diedit terlebih dahulu oleh Mpok Iyah–panggilan akrab Fadjriah Nurdiarsih--sebelum diterbitkan dan diunggah ke dalam website Betawikita.id.

Redaksi Betawikita.id mengundang partisipasi yang seluas-luasnya kepada semua khalayak ramai kaum Betawi yang ingin menyumbangkan tulisannya. Tulisan bisa tentang apa pun soal kaum Betawi untuk dipublikasikan ke website www.betawikita.id.

Mudah-mudahan dengan cara demikian, generasi baru kaum Betawi punya daya refleksivitas. Karena tanpa kemampuan refleksi diri, suatu bangsa atau kaum akan kehilangan wahana pembelajaran untuk menakar, memperbaiki, dan memperbarui dirinya sendiri. Sehingga diharapkan kaum Betawi tidak bergerak seperti zombie, yang pertumbuhan besar fisiknya tidak diikuti perkembangan rohaninya.

Minoritas kreatif di Jalan Sunyi?

Foto selepas diskusi bersama Zen Hae


Zen Hae ketika menjadi pembicara dalam diskusi Betawi Kita tanggal 14 Februari 2016 bertajuk “Orang Betawi dan Tradisi Intelektual” menyimpulkan bahwa tradisi intelektual hanya bisa tumbuh jika pendidikan berkembang dengan baik. Artinya, anak Betawi bias menikmati pendidikan yang cukup, bahkan hingga ke perguruan tinggi.Namun, itu juga mesti ditunjang oleh semacam lingkungan keilmuan, munculnya kelompok diskusi, kaum intelektual dan jurnal/media tempat menyiarkan hasil olah gagasan. Tanpa itu, tradisi intelektual tidak akan berjalan dengan baik.

Namun seperti yang telah disebutkan pada permulaan tulisan, mengapa kegiatan “maen pikiran” tidak seramai “maen pukulan”, dan kalaupun ada, tidak banyak peminatnya. Apakah di tanah Betawi, kekurangan orang yang berpendidikan cukup tinggi? Apakah Kaum Betawi belum memiliki lingkungan keilmuan yang dapat dijadikan wadah untuk munculnya kelompok diskusi yang kritis dan jurnal atau media sebagai tempat menyiarkan hasil olah gagasan?

Jawabannya menurut saya adalah, “Kita tidak perlu menunggu banyaknya jumlah orang maupun wadah lingkungan keilmuan yang mendukung kegiatan “maen pikiran” untuk membuat kaum Betawi bangkit sebagai penggerak utama kemajuan masa depan Indonesia. Cukup menjadikan diri kita sebagai bagian dari kemajuan peradaban kaum Betawi yang bekerja dengan lebih mementingkan otak ketimbang otot.”

Mudah-mudahan harapan Bang Thamrin yang menyerukan agar orang Betawi sigra mendusin dari kematian obor intelektualitas dapat terwakili oleh, baik oleh para pegiat “Betawi Kita” maupun teman-teman lain yang memilih “jalan sunyi” ini. Yakni mereka yang menghidupkan gerakan intelektual dan keberaksaraan dan mau menjadikan Indonesia sebagai kerja dan cita-cita, sementara Betawi menjadi landasannya. Dan semoga Betawi Kita bisa terus besar untuk berkiprah dan memberikan sumbangsih lebih luas lagi. Amin Ya Robbal Alamin...

Roni Adi Tenabang
Founder
.

Related Post

$(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
close
Banner iklan disini