News Sticker

  PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PUTARAN KE-2 (19 APRIL 2017)   SALAH SATU PASANGAN CALON YANG MASUK KE PUTARAN KE-2 ADALAH PASANGAN ANIES & SANDI    PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017) ;   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

Gado-gado dan Soto Betawi Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2016

Asep Setiawan April 2017 Kuliner

Siapa yang tak kenal gado-gado? Makanan khas Betawi ini amat mudah kita temui di berbagai sudut Ibu Kota Jakarta. Salad dengan saus kacang ini memang makanan khas ala Indonesia yang digemari oleh berbagai kalangan. Tidak hanya dijajakan di pedagang kaki lima, gado-gado juga telah merambah hingga ke restoran bintang lima.

Bahkan, gado-gado sudah sejak lama menembus keluar Jakarta dan telah pula menjadi hidangan yang sangat populer di seluruh Indonesia. Gado-gado muncul pada daftar makanan di restoran dari Sabang sampai Merauke. Bahkan banyak orang asing mengenali gado-gado – di samping nasi goreng, sebagai carte du jour nasional Indonesia.

Tapi tahukah Anda, jika makanan sehat ini telah ditetapkan menjadi ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016 lalu.

Ya, kuliner Betawi yang terdiri dari sayur-sayuran yang direbus dan berbagai pelengkapnya itu, seperti yang dikatakan Ketua Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Pudentia MPSS, ditetapkan menjadi Warisan Budaya karena memiliki sejarah panjang. Pasalnya, suku Betawi berasal dari berbagai macam etnis sepeti Portugis, Cina, Jawa, Sunda, dan penduduk asli Jakarta itu sendiri.

Pudentia menjelaskan hal itu sama seperti masakan khas Korea, yakni Kimchi, yang memiliki sejarah panjang sejak zaman perang.

"Pada saat perang, penduduk Korea memikirkan bagaimana caranya makanan bisa awet dalam waktu lama, sehingga lahirlah Kimchi," ujar Pudentia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Asal-usul gado-gado

Tidak ada informasi yang jelas mengenai asal muasal gado-gado. Bahkan asal kata gado-gado pun masih gelap. Mungkinkah itu berasal dari bahasa Prancis, Belanda, atau Portugis? Tidak ada satu pun kamus Bahasa Indonesia yang dapat menjelaskan dari mana asal kata gado-gado.

Bahkan dalam bahasa Betawi–yang untuk sementara kita sepakati sebagai asal-muasal dan tempat terpopuler untuk makan gado-gado–tidak dikenal istilah asli yang dapat menjelaskan asal kata gado-gado.

RRI Studio Jakarta dulu punya acara obrolan yang amat populer antara seorang tukang sado (Bang Madi) dan tukang gado-gado (Mpok Ani). Keduanya adalah tokoh legendaris yang telah ikut menanamkan claim bahwa gado-gado adalah hidangan khas Betawi.

Gado-gado bahkan menjadi istilah untuk segala macam yang sifatnya merupakan adukan dari berbagai unsur. Misalnya, bahasa gado-gado untuk mengatakan bahasa campur-campur. Perkawinan gado-gado adalah untuk dua mempelai yang punya latar belakang suku, agama, atau ras yang berbeda. Gado-gado barangkali juga merupakan istilah rakyat untuk mengatakan Bhinneka Tunggal Ika atau keberagamaan.

Kita hanya dapat memperkirakan asal nama gado-gado. Orang Jawa biasanya memakai istilah digado untuk makanan yang bisa dimakan tanpa nasi. Gado-gado, sekali pun sering dimakan dengan lontong, memang jarang dimakan dengan nasi. Bila dimakan dengan lontong, gado-gado memang merupakan a meal in it self, bukan lauk. Di Jawa ada makanan yang disebut gadon karena bisa dimakan tanpa nasi.

Mungkin karena klaim yang kabur tentang gado-gado inilah, maka kita tak dapat memperjuangkan klaim resmi sebagai pemilik hak cipta atas gado-gado. Seorang pembaca "Jalansutra" di New Zealand bahkan merasa geram menemukan restoran Malaysia di sana menyebut gado-gado sebagai hidangan nasional Malaysia.

Pada dasarnya, gado-gado adalah campuran berbagai sayur rebus yang dibubuhi bumbu atau saus dari kacang. Sayur-mayur rebus yang dipakai biasanya adalah kangkung, kacang panjang, tauge, labu siam, jagung, nangka muda, kol (kubis).

Di atas sayur rebus itu dibubuhi lagi berbagai "aksesori" seperti tahu goreng, tempe goreng, kentang goreng atau rebus, dan timun (tidak direbus) yang diiris tipis. Terakhir, setelah diberi bumbu kacang, ditaburi lagi bawang goreng dan kerupuk. Kerupuknya bisa emping melinjo atau kerupuk merah. Jenis kerupuk yang dipakai biasanya menentukan murah-mahalnya gado-gado.

Gado-gado mengenal dua varian bumbu atau saus kacang. Yang pertama dan paling disukai adalah bumbu yang diulek secara individual. Bumbu ulek ini disukai karena dianggap lebih fresh, dan lebih eksklusif. Misalnya, ada orang yang ingin cabenya lebih banyak, manis asinnya terasa atau pedasnya sedang.

Varian yang kedua adalah bumbu yang sudah dipersiapkan dalam jumlah banyak dan tinggal disiramkan ke atas campuran sayur dan asesorinya.

Soto Betawi

Selain gado-gado, soto Betawi juga ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda bersama dengan 148 karya budaya lainnya.

Sebanyak 150 karya budaya yang ditetapkan pada 2016 lalu tersebut merupakan hasil seleksi dari 474 karya budaya yang masuk pada tahun itu.

Setelah dilakukan seleksi administrasi, dihasilkan 270 karya budaya. Seleksi administrasi yang dilakukan oleh tim ahli berupa kelengkapan dan kelayakan daya pendukung seperti foto, video, serta kajian akademis.

"Kegiatan penetapan ini bertujuan untuk melindungi budaya tak benda di Tanah Air. Setelah ditetapkan, maka pemerintah daerah berkewajiban melindungi dan melestarikan karya budaya tersebut," jelas Pudentia.

Pada 2013, Kemdikbud menetapkan 77 karya budaya menjadi Warisan Budaya Tak Benda. Kemudian pada 2014, ditetapkan sebanyak 96 karya budaya dan pada 2015 ditetapkan sebanyak 121 karya budaya.

Karya budaya lainnya yang masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda adalah Debus Indragiri dari Riau, Gambang Kromong-Rancag dari DKI Jakarta, Tari Piring dari Sumatera Barat, dan sebagainya.

Pudentia mengatakan terdapat 15 kriteria yang digunakan sebagai acuan dalam menetapkan suatu karya budaya, seperti karya budaya itu merupakan identitas budaya dari satu atau lebih komunitas budaya, memiliki nilai budaya yang dapat meningkatkan kesadaran akan jati diri dan persatuan bangsa.

"Karya budaya itu memiliki kekhasan, tradisi hidup, serta dapat memberikan dampak sosial ekonomi dan budaya, mendesak untuk dilestarikan, menjadi sarana untuk pembangunan yang berkelanjutan, yang keberadaannya terancam punah, dan sebagainya," kata Pudentia. (Asep Setiawan/Berbagai sumber)

Related Post

$(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
close
Banner iklan disini