News Sticker

  PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PUTARAN KE-2 (19 APRIL 2017)   SALAH SATU PASANGAN CALON YANG MASUK KE PUTARAN KE-2 ADALAH PASANGAN ANIES & SANDI    PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017) ;   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

Ahok dan Benyamin S

JJ Rizal Februari 2017 Ahok dan Benyamin S

Kota-kota lahir, tumbuh, dan para seniman memperkenalkannya kepada dunia lebih cepat dan memikat ketimbang para pejabat kota itu sendiri. Tetapi, sungguh ironis di Jakarta dalam periode yang panjang para pejabatnya sering melupakan peran penting seniman.

Bahkan dalam suasana ulang tahun Jakarta ke-487 lalu, ketika menguat penghormatan kepada keistimewaan seni budaya Betawi-Jakarta serta tokoh-tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk itu, justru hal yang memilukan terjadi. Benyamin S sebagai seniman ikon nomor wahid dan manisfestasi tradisi budaya Betawi-Jakarta mengalami penghinaan luar biasa dalam acara YKS produksi Trans TV. Anehnya tidak terdengar suara protes dari pemerintah Jakarta. Padahal protes yang diikuti aksi demonstrasi dilakukan bukan saja oleh orang Betawi dan orang Jakarta, juga banyak orang dari berbagai daerah. Mereka sukses. YKS distop.

Apakah menanggapi pembunuhan karakter Benyamin S tidak sepenting menanggapi pembunuhan karakter nama gubernur yang masuk soal ujian nasional atau wakil gubernur yang disebut Cina? Mengapa ada waktu untuk memprotes pertunjukan topeng monyet yang melecehkan martabat binatang, tetapi tidak untuk Benyamin S yang dilecehkan martabatnya sebagai manusia?

Mungkin pemerintah kota Jakarta masih belum merubah wajahnya dari masa Kompeni yang disebut sejarawan Leonard Blusse berwajah konsumtif. Sebab pejabatnya lebih memperhatikan pedagang daripada seniman yang telah membuat sajak, lagu, lukisan, dan cerita yang membuat Batavia sohor di dunia disebut Koningin het van Oosten atau Ratu di Timur.

Setelah kemerdekaan, Asrul Sani termasuk yang jengkel melihat wajah abai pemerintah terhadap seniman itu masih ada. Saking jengkel ia menulis “Surat Terbuka Bagi Walikota Baru” di majalah Siasat, 3 Januari 1954. Ia menyatakan pemerintah Jakarta mempunyai “wajah pejabat”. Asrul protes karena banyak seniman bekerja keras menampilkan Jakarta sebagai sumber ilham dan tempatnya tinggal, tetapi pemerintah kota saat itu kurang menghargai seniman serta mendorong kehidupan kebudayaan.

Asrul kecewa ketika pada 28 april 1949, Chairil Anwar melepaskan nyawa dan diantar ke pekuburan di Karet, pimpinan Jakarta Sastromuljono tidak memberikan perhatian. Padahal rombongan pengantar jenazah penyair terkemuka yang banyak meninggalkan nyanyian tentang kota Jakarta itu lewat di depan rumahnya. Kekecewaan yang sama sebelumnya juga disampaikan Rosihan Anwar. Ia menyesalkan ketidaktahuan pemimpin Jakarta tentang posisi penting Chairil. “Selama sajak-sajak Chairil masih dihargai orang, selama itu suasana yang ada dalam kota Jakarta, suasana jalan besar dan gang-gangnya akan tetap hidup,” kata Rosihan.

Perlu satu dasawarsa lebih Jakarta memiliki pemimpin sesuai harapan Asrul dan Rosihan itu. Pada 1966, Ali Sadikin diangkat. Meskipun ia mengaku tak tahu banyak kesenian serta kenal seniman, tetapi baginya seniman penting untuk membangun kota yang beradab. Sebab itu mulai 1968, ia memfasilitasi seniman dengan mendirikan Taman Ismail Marzuki (TIM), Akademi Jakarta (AJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sinematek, dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Ia pun dikenang sebagai gubernur yang bergaul erat dengan seniman, juga mendegarkan saran-saran mereka dalam pembangunan Jakarta. Kisah itu dapat dibaca dalam biografinya Bang Ali Demi Jakarta dan EmpuAli Sadikin 80 Tahun.

Buku yang terakhir itu terbit sebagai bagian acara penganugerahan gelar “Empu Peradaban Kota” kepada Bang Ali oleh IKJ pada 25 Januari 2006. Ajip Rosidi menyatakan gelar itu diberikan agar pemimpin Jakarta ingat pentingnya kesenian dalam membantu menjauhi Jakarta dari wajah kota yang tak beradab. Sebab kesenian meningkatkan kepekaan, mendorong pemikiran kritis, berkontribusi merumuskan acuan-acuan kehidupan yang baik dan membaik.

Ada yang berlanjut ada yang berubah, Jakarta muncul dengan aneka wajah. Tetapi soal perhatian terhadap seniman, Jakarta tampak masih enggan melepas wajah kota konsumtif yang dikatakan Blusse, wajah kota pejabat yang disebut Asrul, dan wajah kota tak beradab yang dinyatakan Ajip.

Related Post

$(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
close
Banner iklan disini